VISIT MY FLICKR

FEETHREE. Get yours at bighugelabs.com/flickr

Khamis, 21 Ogos 2008

TRIP TO PANGKOR

pada 16 pagi setelah bermuafakat dengan beberapa orang jiran, kami telah membuat keputusan untuk pergi bercuti ke pangkor sempena cuti sekolah ni walaupun a'qil belum lagi sekolah tapi kami tetap jugak sebuk nak becuti.. JOM!
get ready! kejap lagi kita gerak!
Singgah Sekinchan minum pagi da!

Dah sampai lumut jeti nak gi pangkor. Lepak dulu penat drive tau

Hilang penat main dulu ngan kengkawan
"Abah! Kita atas Feri ke ni?"

Diam-diam le A'qil Abah nak amek gambor kite tu

uuuuu Kuatnye angin Bu.
Bila la nak sampai ni Bu?
Ta da!!! ni la Bilik kite
Aik awalnye dah gi memerhatikan laut
to be continued.......

Selasa, 12 Ogos 2008

Makna kehidupan "Husnul khaatimah"

"Khusnul Khatimah adalah hujung perjuangan manusia. Manakala perjuangan terakhirnya berlansung dengan baik, insya Allah ia akan menikmati sisi terakhir dari kehidupannya di syurga."



Hidup terasa begitu cepat. Dan waktu secara perlahan-lahan, senantiasa mengarahkan kita menuju kematian. Satu tahun berlalu berganti dengan dua tahun dan kian hari usia kita semakin bertambah. Semakin lama kematian itu semakin mendekat dan manusia tak mungkin lagi dapat menghindarinya. Ibarat sebuah medan ujian, dunia adalah babak prakualifikasi untuk menentukan siapa yang layak untuk mendiami istana syurga yang abadi, dan siapa yang pantas untuk dimasukkan ke dalam bara api neraka.


Detik-detik kematian tak perlu dirisaukan. Orang-orang yang beriman akan menyambutnya dengan perasaan yang tulus, dari Allah SWT kita berasal dan kepada-Nya pula kelak kita kembali. Dalam kepastian menjemput kematian inilah husnul khaatimah menjadi idaman setiap orang mukmin. Karena pada detik akhir ini semua ditentukan, apakah kita akan menjadi orang yang bahagia, atau sebaliknya, semua tergantung pada detik-detik akhir ini. Husnul Khaatimah, merasa enjoy dan happy, bahagia di saat –saat terakhir kehidupan.


Setiap akhir pastilah ada awalnya. Begitu juga kalau ada husnul khaatimah itu sesungguhnya tidak hanya pada akhir kematian. Paling tidak ada empat kali period yang kita jalani.


Pertama, saat keluar dari alam ruh ('alamul arwaah). Dari alam ruh, kita keluar dan masuk ke alam kedua, yang disebut dengan 'alamul arham (alam kandungan atau rahim ibu). Ketika dalam kandungan, ada satu masa di mana Tuhan "meniupkan" ruh-Nya kepada Adam yang sebelumnya hanya selonggok fisik saja.


Tatkala Nabi Adam diciptakan dari tanah liat itu, dia tidak ada apa-apanya. Nabi Adam tak ubahnya selonggok tanah biasa. Nabi Adam mulai berharga dan bernilai, setelah Allah SWT meniupkan ruh-Nya itu dan menjadikannya sebagai khalifah (mandataris Tuhan) di bumi. Pada saat itulah kedudukannya melampaui makhluk spiritual yang ada sebelumnya, termasuk malaikat dan jin.


Di dalam alam rahim, terjadi peristiwa spiritual yang disebut dengan "perjanjian primordial", yang universal bagi seluruh manusia. Manusia dengan Tuhannya melakukan kontrak.
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS. Al-A'raaf : 172).


Apa pun agamanya dan betapa pun kafirnya orang itu kemudian, sesungguhnya ia mengingkari perjanjian primordial itu dengan Tuhan. Seorang manusia tidak mungkin keluar ke alam fana (dunia) ini tanpa melalui perjanjian itu.


Terminal yang ketiga adalah alam fana (alam sementara). Di sinilah puncak prestasi manusia harus diperoleh. Dunia ini tempat beramal dan berprestasi yang menentukan masa depan kita di alam berikutnya. Kalau prestasi amal ibadah kita baik, maka mulai terminal keempat iaitu alam barzakh sampai terakhir, alam akhirat nanti, kita kita akan merasakan efek dan pengaruh positifnya. Maka di sinilah perlunya kita mengkaji husnul khaatimah.


Husnul Khaatimah adalah ujung perjuangan manusia. Kalau perjuangan terakhirnya itu baik, insyaa Allah ia akan menikmati sisa terakhir dari kehidupannya. Menurut Nabi, "Barang siapa yang mengucapkan laailaahaillallah di akhir hayatnya (di penghujung pembicaraannya) , ia dijamin masuk surga."


Apakah hadis ini mengisyaratkan tidak pentingnya shalat, puasa, zakat, atau haji bagi kita? Bukankah dengan hanya mengafal kalimat laailaahaillallah yang nantinya kita ucapkan menjelang kematian, sudah cukupkah membuat kita masuk surga? Tentu saja jawabannya tidak. Persoalannya tidak sederhana menghafal. Kalimat ini kalimat sakral. Bisa jadi saat ini kita merasa mudah dan lancar melafadzkannya. Akan tetapi orang yang selalu dilumuri dengan dosa sepanjang hidupnya, lidahnya takkan sanggup mengucapkan laailaahaillallah. Atau dia punya dosa-dosa tertentu, sehingga lidahnya kelu untuk mengucapkan kalimat tauhid ini.


Diceritakan, suatu hari Rasulullah mendengar bahwa Al-Qama, salah satu sahabat dekatnya, mengalami sakaratul maut, Rasulullah kemudian mengutus sahabat-sahabat terbaiknya yang lain untuk membantu ta'ziyyah mayitnya. Alangkah kagetnya para sahabat yang datang pada saat itu. Al-Qama yang dikenal rajin ikut berjihad bersama Rasulullah, tidak sanggup mengucapkan laailaahaillallah, tetapi kata-katanya lancar, ia memanggil siapa saja.


Bersamaan dengan itu, sahabat segera menghubungi Rasulullah. "Ya Rasul. Ada sesuatu yang aneh terjadi pada sahabat kita Al-Qama," lapor sahabat. "Apa yang terjadi padanya?" Tanya Rasulullah. "Sahabat kita, Al-Qama, tidak sanggup mengucapkan laailaahaillallaah." Rasul pun datang menemui Al-Qama, seraya bertanya, "Apakah kamu mengenalku?" "Saya sungguh mengenalmu ya Rasulullah!" jawab Al-Qama. "Bacalah laailaahaillallaah," kata Nabi. Berkali-kali Rasulullah menuntunnya, Al-Qama tetap tidak bisa. Mulutnya terasa terkunci, dan kalimat tauhid ini seakan berat untuk diucapkan. Anehnya, Al-Qama bisa berkata selain kalimat tauhid itu.


"Tolong panggilkan ibunya," Rasulullah menyuruh sahabatnya. "Ibunya tidak ada ya, Rasulullah." "Tapi masih hidupkah dia?" Tanya Rasulullah. "Masih hidup," jawab para sahabat. Diutuslah seorang sahabat untuk memanggil ibu Al-Qama atas nama Rasulullah.


Setelah ibunya datang, Nabi bertanya, "Mengapa ibu tidak datang, saat anak ibu sakit seperti ini?" "Saya memang belum sanggup datang ke sini. Sekiranya bukan Rasul yang memanggilku untuk datang, saya takkan datang," tutur ibu itu lirih. "Kenapa?" Tanya Rasul. "Saya tersinggung oleh perlakuan anak ini. Semenjak ia kawin, ia tak ingat lagi untuk mengurusiku. Padahal ia anak satu-satunya." Jawab ibu itu. "kalau demikian sanggupkah Ibu memaafkan anak Ibu?" pinta Rasul. "Hati saya belum rela memaafkannya, hatiku terlalu sakit," jawab Ibu itu kemudian.


Lalu Rasulullah memerintahkan para sahabatnya untuk mengumpulkan kayu bakar. Tak lama kemudian, kayu bakar itu bertumpuk di depan Al-Qama. "Untuk apa kayu bakar itu ya Rasulullah?" Tanya ibu tadi hairan. Nabi menjawab, "lebih baik api dunia yang membakarya, daripada api neraka yang menyala dan dahsyat panasnya. Jika engkau tak mahu memaafkan anakmu, lebih baik anakmu kami bakar!" "Jangan!" pekik ibu itu seraya mengucurkan air mata. "Aku memang benci anakku, tapi tak ingin dia mengalami malapetaka seperti itu. Sudahlah, aku maafkan anakku," lanjut ibu itu. Begitu kata maaf itu keluar dari mulut sang ibu, meluncurlah kalimat laailaahaillallah dari mulut Al-Qama. Rasulullah dengan sahabat-sahabatnya serempak melantunkan innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun.


Cerita ini, menggambarkan kepada kita, betapa susahnya meraih husnul khaatimah itu. Tidak sekadar lancar mengucapkannya. Betapapun solehnya seseorang itu, dia pasti takut menghadapi sakaratul maut itu. Mari kita renungkan masa lalu kita. Gelapkah perjalanan hidup kita? Ataukah justru sebaliknya? Kita adalah orang paling tahu masa lalu kita sendiri. Berapa orang yang kita korbankan demi memenuhi kepentingan kita? Berapa orang yang kita tipu? Berapa orang yang telah kita buat resah? Belum lagi dosa kita kepada Allah! Ternyata gelapnya masa lalu kita.


Siapa yang tidak takut mati, ketika membayangkan masa lalunya yang sarat dengan dosa. Kalau Tuhan tidak memaafkannya, apa jadinya kita ini? Mari kita renungkan siapkah kita menghadapi kematian ini? Apa bekal kita untuk masa depan kita setelah kematian? Kerana cepat – lambat pasti menjemput kita?


Masalah husnul khaatimah, tidak bisa kita ukur dengan ukuran-ukuran formal. Kadang, tetangga kita yang biasa-biasa saja, mengalami kematian yang syahdu sembari tersenyum. Sebaliknya, seorang kiai yang perstasi amalnya-dimata kita-baik sekali, justru menghadapi seksaan yang luar biasa pada detik-detik ajalnya, bukanlah jaminan bahawa amal tetangga kita yang biasa-biasa, lebih baik daripada kiai yang soleh itu.


Dalam literatur Islam dikatakan, bisa jadi, orang yang tersenyum saat menjelang kematiannya, masih ada sisa-sisa kebaikan yang pernah dilakukannya, tapi setelah itu ia langsung masuk neraka. Sebaliknya, mungkin masih ada sedikit dosa-dosanya yang diampuni Tuhan, maka, detik-detik terakhir hidupnya ia diberi kesempatan untuk mencuci dosa-dosa itu, dengan dibiarkan menderita saat menjemput maut. Sebab, penyakit adalah penghapus dosa. Rasulullah bersabda, "Orang yang diuji dengan berbagai penyakit, kemudian orang itu sabar, maka ia akan menghapus dosa-dosa masa lalunya."


Ada beberapa peristiwa yang menurut Rasulullah disebut sebagai pencuci dosa. Antara lain: seorang perempuan yang melahirkan seorang anak dan meninggal dalam keadaan masih bayi. InsyaAllah orang itu akan mendapatkan peluang untuk husnul khaatimah. Atau orang yang melahirkan lalu meninggal. Kita tidak bisa menentukan orang itu husnul khaatimah atau su'ul khaatimah. Yang berhak menilai dan yang tahu persis hanya Allah SWT.


Memang, dalam kitab kuning disebutkan, ciri-ciri orang yang meninggal dalam keadaan baik, antara lain: mampu mengucapkan kalimah laailaahaillallaah. Bahkan ada yang ingin meninggal dalam keadaan sujud di depan kebesaran Tuhan. Kita bisa berdoa untuk meraih husnul khaatimah. Kita memohon dilindungi dari kematian dalam keadaan yang hina dina. Tidak sedikit orang yang meninggal di tempat pelacuran. Padahal mungkin pada masa lalunya sangat bagus.


Bagaimana mempersiapkan husnul khaatimah itu? Kita tidak bisa mengatur skenario pada detik-detik kematian kita. Kerana sesungguhnya, husnul khatimah itu diperoleh melalui akumulasi rangkaian panjang amal perbuatan kita.

Tiba-Tiba Rasa Nak Ambik Gambo part I



Baru-baru ni balik kampung. Elok pun terbawak kamera baru, apa lagi gatal la tangan nak mengambil gambo. Meh kita tengok.. ekekeke


on the way balik ke kampung

wah ranumnye rambutan kat umah Mak Lang aku ni

Astaga gambo lalat pun jadi nak ambik

ni bunga kat belakang rumah opah aku

ini hasil setelah sedaya upaya 'membalun' buah-buah yang ada

ini lagi gambo bunga belakang rumah opah aku

Isnin, 4 Ogos 2008

Gabungan NGO?

Aku sering menghadiri mesyuarat NGO-NGO Islam yang ada di sekitar ibu kota dan juga luar dari ibu kota kita. Dah banyak aku dengar pelbagai pandangan dan cadangan dalam mesyuarat itu bagaimana peranan badan-badan bukan kerajaan ini dapat menyatukan fikrah dalam usaha mereka memperjuangkan Islam khususnya.

Jika dikaji sebenarnya agak terlambat badan-badan ini bergerak namun inilah cara terbaik yang dapat digunakan dalam mempertahankan Islam di negara ini. setelah berakhirnya PRU ke 12 dahulu dapat aku lihat bertapa orang Islam khususnya orang Melayu sangat bergantung pada parti-parti politik tidak kira sama ada ianya PAS, PKR ataupun UMNO.

Kenapa aku katakan begitu? Senarionya mudah, bila cengkaman UMNO agak kendur kebelakangan ini bagaimana dengan nasib orang Melayu yang sangat bergantung pada UMNO? Dan jika PAS atau PKR pula yang jatuh nanti bagaimana pulak keadaan orang Melayu yang bergantung harap pada parti-parti itu?

Jawapannya mudah dan disinilah kita dapat lihat apakah peranan NGO itu kepada masyarakat. Sebenarnya, kekuatan NGO perlu dijana sepenuhnya bagi menjadi tempat pergantungan orang Islam dan Melayu khusunya kerana jelas NGO fungsinya tidak dipengaruhi oleh mana-mana pihak menjadikannya tempat selamat kepada orang Islam ataupun orang Melayu bergantung harap. Namun begitu adakah NGO kita ini sudah bersedia ke arah itu?

Aku berpendapat sudah tiba masanya NGO Islam ini menyatukan fikrah mereka demi kepentingan umat. Walaupun setiap NGO itu mempunyai matlamat yang berbeda namun penyatuan fikrah dapat dibuat demi memertabatkan agama dan bangsa dan cara terbaik penyatuan fikrah ini adalah melalui gerak kerja bersama yang dinamakan gabungan.

Dalam konteks ini aku rasa masyarakat cina boleh dijadikan contoh bagaimana mereka mempunyai masyarakat yang tersusun dengan penyatuan fikrah yang sama demi bangsa mereka.

Aku rasa bila orang Islam dan orang Melayu boleh menyemai sikap demikian rasanya tidak ada sebarang masalah kita untuk menjaga kepentingan bangsa dan agama.

Kisah Kepahlawanan Negara Di Anak Tirikan?

Hari khamis lepas sambil aku mendrive menuju tempat kerja aku hati aku amat tertarik dengan tajuk perbincangan yang sedang di bincangkan iaitu tentang kepahlawanan yang pernah wujud di Tanah Melayu sebelum kemerdekaan sampailah sekarang dan ada pulak yang dok buat lawak bangang. Ok la tu memeriahkan perbincangan. Radio ni pun makin lama, makin ramai pendengarnye tambahan dengan kemasukan pengacara popular dari ERA.

Semakin lama topik ni dibincangan aku semakin tersenyum riang sebab ramai di kalangan kita masih kenal akan pejuang masa dulu dalam memperolehi kebebasan yang dikecapi pada masa sekarang. Masuk fasa kedua perbincangan, pengacara mula beranjak sedikit tentang asas perbincangan iaitu dari perihal pahlawan, tajuk dianjak sedikit membincangkan filem perang atau kepahlawanan tempatan (lebih kurang camtu le) yang paling diingati. Lantas fikiran aku terus menjana pengetahuan yang ada dalam otak aku.

Sejenak itu terbit difikiran aku, "banyak ke filem kepahlawan negara kita yang boleh dibanggakan?"

Sejak kecil aku telah disogokkan dengan cerita seperti Hang Tuah, Hang Jebat, Sumpah Semerah Padi, Sarjan Hassan, Bukit Kepong, Darah Satria, Leftenan Adnan, selain filem seperti Panglima Badul dan Prebet Badul. Itu sahajakah filem kebangaan rakyat Malaysia ni? Dari senarai yang aku sebutkan kat atas tu (sekadar yang ingat saja) yang mana lebih mempunyai nilai sejarah dan fakta yang tepat? Apakah senarai yang ada itu sudah cukup memberi kebanggaan kita sebagai rakyat Malaysia?

Bagi aku jawapanya TIDAK!

Daru dulu lagi aku sangat kepingin melihat karyawan negara memfilemkan kisah-kisah sejarah negara untuk tatapan generasi kini termasuk aku yang hampir memasuki generasi lama tidak lama lagi. Aku cukup berasa bangga sekiranya karyawan atau penerbit filem cuba sedaya upaya mewujudkan filem-filem sejarah ini bagi merungkai peristiwa dan rahsia sebenarnya perjuangan pejuang lama.

Adakah wujud masalah besar dikalangan karyawan mahupun penerbit filem dalam menerbitkan filem-filem sebegini? Adakah kekurangan wang? kalau kekurangan wang mengapa filem Leftenan Adnan mampu diwujudkan dan mendapat sambutan. Begitu juga dengan penerbitan filem 1957: Hati Malaya arahan ulung Shuhaimi Baba. Bukankah filem itu menelan belanja jutaan ringgit tapi masih mampu diwujudkan.

Adakah negara kita kekurangan sumber maklumat dan rujukan? Tak jugak aku rasa, sebab aku rasa kisah kepahlawanan Tanah Melayu ni kalau nak dikirakan bukunya tak cukup tangan malah buku sejarah tingkatan 1 pun banyak menceritakan kisah2 kepahlawanan yang pernah wujud dan kalau sudah begitu takkan lah sebesar2 khutubkhannah di Malaysia ini tidak boleh diselongkar demi anak-anak kita. Jadi apakah sebenarnya masalah kita ni?

Kalau dulu kita amat tersentuh dengan filem Black Hawk Down yang gagal menyampaikan kisah sebenar semasa perang itu, mengapa kita sendiri tidak wujudkan filem itu bagi menceritakan perkara sebenar?

Pada aku, daripada si karyawan ataupun penerbit filem bersusah payah menerbitkan filem cintan cintun yang belum pernah menjanjikan pendapatan lumayan, apa salahnya menceburi perfilemen yang berunsur sejarah pula? Kalau ya ianya tak menjaminkan pulangan yang lumayan, setidak-tidaknya kamu sudah berbakti pada nusa dan bangsa.

Aku sering membayangkan dapat menyimpan koleksi filem-filem kepahlawanan tempatan dan ya dalam simpanan aku ada Darah Satria, Bukit Kepong, dan Leftenan Adnan.

Jadi agaknya bila dapat aku menonton di panggung wayang dan menyimpan koleksi seperti filem Tok Janggut, Tun Perak, Mat Kilau, Si Puntum yang membunuh JWW Birch, Kanang Anak Langkau, Mat Salleh, Syed Sheikh Al Hadi, Burhanuddin Al-Helmi dan lain-lain lagi. Tolonglah karyawan ku penuhilah hajat ku ini. Sekurang-kurangnya, setiap kali bila tiba Hari Kemerdekaan, taklah filem yang sama diulang setiap tahun

LIFE

Feed The Fish