VISIT MY FLICKR

FEETHREE. Get yours at bighugelabs.com/flickr

Khamis, 11 Mac 2010

Hakikat Kematian


Menurut para ulama kematian bukan sekadar ketiadaan atau kebinasaan belaka, tetapi sebenarnya mati adalah terputusnya hubungan roh dengan tubuh, terhalangnya hubungan antara keduanya, dan bergantinya keadaan dari suatu alam ke alam lainnya. Mati termasuk musibah terbesar, dan Allah Subhanahu wa Ta'ala menyebutnya dengan nama musibah. Perhatikan firman-Nya,

"Lalu kamu ditimpa musibah kematian." (Al-Maa'idah: 106)

Dengan demikian, mati memang musibah terbesar dan bencana paling dahsyat.

Sungguh pun demikian, para ulama kita mengatakan bahwa ada musibah yang lebih besar daripada mati, iaitu lalai terhadap mati, tidak peduli, dan jarang memikirkannya, serta tidak beramal baik sebagai persiapan untuk menghadapi kedatangannya. Padahal, mati itu sendiri merupakan pelajaran bagi orang yang mahu mengerti, sekaligus pemikiran bagi orang yang mau berfikir. Dalam sebuah khabar yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu wa Sallam dikatakan,

"Andaikan binatang ternak mengetahui (pelajaran) dari kematian sebagaimana yang kamu ketahui, nescaya tidak akan ada seekor binatang gemuk kerana hilang selera makan." (menurut Al Albani dalam Adha Dha’ifah derajat hadis ini Dhaif sekali, Dhaif al Jami)

Riwayat lain menyebutkan bahwa seorang Badwi berjalan menaiki untanya. Tiba-tiba unta itu jatuh tersungkur lalu mati. Maka Badwi itu turun, melihat kenderaannya dan bertanya-tanya, "Kenapa kamu tidak mahu berdiri? Kenapa tidak mahu bangkit? Anggota tubuhmu masih lengkap, dan seluruh alat indramu masih utuh, tapi mengapa? Apa yang membuat kamu begini? Apa yang menjadikanmu boleh berdiri, dan apa yang membuatkan kamu sekarang tersungkur? Dan, apa yang telah mencegahmu untuk bergerak?" Akhirnya, unta yang sudah tidak bernyawa itu pun ditinggalkannya. Dia pulang sambil tetap hairan memikirkan kejadian itu.

At-Tirmidzi Al-Hakim Abu Abdillah meriwayatkan dalam Nawadir Al Ushul; Telah bercerita kepada kami, Qutaibah bin Sa'id dan AL-Khathib bin Salim, dari Abdul Aziz Al-Majisyun, dari Muhammad bin Al-Muakadir, dia berkata, Salah seorang anak dari Nabi Adam Alaihissalam meninggal dunia. Maka beliau berkata, 'Hai Hawa, anakmu telah mati.'

"Apa mati itu?" tanya Hawa.

Nabi Adam menjawab, "Tidak makan, tidak minum, tidak berdiri dan tidak duduk." Maka Hawa pun menangis sekuat-kuatnya. Akhirnya, Nabi Adam berkata, "Hindari dirimu dan anak-anak perempuanmu dari menangis, aku dan anak-anakku tidak bertanggung jawab atas hal itu." (Isnadnya Shahih Maqthu, karena Muhammad bin Al-Muakadir tergolong tabi'in yang tsiqat.

LIFE

Feed The Fish